Kamis, 23 Agustus 2012

PERAN MEDIA DALAM PENGATURAN PEMBELAJARAN (THE ROLE OF MEDIA IN INSTRUCTIONAL SETTINGS)

A.    PENDAHULUAN
Dalam belajar mengajar hal yang terpenting adalah proses, karena proses inilah yang menentukan tujuan belajar akan tercapai atau tidak tercapai. Ketercapaian dalam proses belajar mengajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut baik yang menyangkut perubahan bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Dalam proses belajar mengajar ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainaya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran.
Dengan adanya media pembelajaran maka tradisi lisan dan tulisan dalam proses pembelajaran dapat diperkaya dengan berbagai media pembelajaran. Dengan tersedianya media pembelajaran, guru atau pendidik dapat menciptakan berbagai situasi kelas, menentukan metode pengajaran yang akan dipakai dalam situasi yang berlainan dan menciptakan iklim yang emosional yang sehat diantara peserta didik.
Dalam pembelajaran, alat atau media pendidikan jelas diperlukan. Sebab alat atau media pembelajaran ini memiliki peranan yang besar dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Akan tetapi untuk menjadikan media tersebut memiliki nilai guna maka diperlukan adanya tujuan pembelajaran dimana dengan tujuan pembelajaran tersebut guru (pendidik) bisa mengaur jalannya proses kegiatan belajar dan mengajar dengan cara mengorganisasikan peserta didik, menentukan tempat dan media yang digunakan serta merumuskan berapa lama waktu yang akan digunakan untuk mencapai suatu kompetensi atau tujuan belajar yang telah disepakati sebelumnya.
Secara garis besar makalah ini akan membahas mengenai beberapa hal yang terkait dengan peran media dalam pengaturan pembelajaran, dengan pokok bahasan tentang pengorganisasian, alokasi tempat, serta alokasi waktu pembelajaran.

B.     PEMBAHASAN
1.    Organization Of Group (mengorganisasi kelompok)
Menurut Ngalim Purwanto organisasi dapat diartikan sebagai pemberian struktur atau penempatan beberapa orang di dalam suatu kelompok, sehingga terjalin hubungan dengan tanggung jawab masing-masing yang bertujuan agar tercapainya segala apa yang disusun bersama kelompok.[1]
Sedangkan menurut Dales S. Beach dalam (Burhanuddin) organisasi dapat diartikan sebagai berikut:
“Organisasi adalah suatu sistem, mempunyai struktur dan perencanaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, di dalamnya orang-orang bekerja dan  berhubungan satu sama lain dengan suatu cara yang terkoordinasi dan kooperatif guna mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.”[2]
Definisi di atas memberikan gambaran bahwa ada beberapa poin saling menguatkan dalam sebuah organisasi. Poin tersebut ialah adanya struktur, adanya perencanaan, rasa sadar (kesadaran), adanya koordinasi dan kooperatif serta terdapat tujuan. Berdasarkan poin-poin tersebut maka sebuah organisasi tidak akan berjalan baik jika salah satu poin tersebut hilang. Hal ini jika direalisasikan dalam proses pembelajaran, maka seorang guru harus mampu mengorganisir peserta didik di dalam kelas baik secara individu maupun kelompok tanpa menghilangkan poin-poin tadi sehingga pembelajaran berjalan dengan baik.
Sedangkan menurut Oteng Sutisna bahwa ada tiga faktor yang terdapat di dalam pengertian organisasi, dan ketiga faktor tersebut berimplikasi kepada kesatuan sebuah organisasi serta mengokohkan keberadaannya. Tiga faktor tersebut adalah tujuan-tujuan, kewenangan, serta pengetahuan.[3]
Pada pengertian lainnya bahwa dalam proses pembelajaran, organisasi kelompok belajar sangat dibutuhkan untuk mengontrol proses pembelajaran sehingga berjalan sesuai dengan apa yang hendak dicapai yaitu tujuan pembelajaran. Serta memudahkan guru untuk memberikan matapelajaran karena kondisi kelas sudah  terorganisir dengan baik dan benar. Selain itu, peserta didik juga merasa memiliki tanggungjawab setiap mengikuti pembelajaran dan berimplikasi kepada semangat serta motivasi belajar peserta didik.
Siagan dalam (Burhanuddin) juga memberikan definisi berkenaan dengan organisasi sebagai berikut:
“Setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk sesuatu tujuan bersama dan terikat secara formal dalam persekutuan mana selalu terdapat hubungan antara seorang/sekelompok orang yang disebut pemimpin dan seorang/ kelompok orang lain yang disebut bawahan.”[4]
Pengertian di atas jika dikaitkan dengan organisasi pembelajaran atau kelompok belajar, maka pemimpin tersebut ialah guru sedangkan bawahannya ialah peserta didik. Diantara keduanya terikat dalam suatu sistem pembelajaran yang sama-sama hendak mencapai suatu tujuan demi masa depan.
Organisasi pada setiap negara, sekolah, maupun pada tataran yang paling kecil yaitu organisasi kelompok memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut tercermin pada landasan yang dipegang. Jika semua hal diatur oleh seorang maka organisasi tersebut cenderung ke arah sentralisasi. Sebaliknya jika setiap kelompok memimpin sendiri kelompok atau golongannya maka organisasi seperti ini cenderung ke arah desentralisasi.[5]
Perbedaan pola organisasi tersebut tetap berpegang kepada dua ketentuan sebagai berikut:
a.    Tidak lebih dari seorang guru bertanggungjawab untuk mengajar semua matapelajaran atau gabungan matapelajaran dalam suatu kelompok yang berjumlah 25-30 peserta didik serta bertatap muka lima kali dalam seminggu;
b.      Organisasi berfungsi langsung kepada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.[6]
Sebenarnya proses organisasi tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan di  bawah ini yaitu:
a.       Pembagian kerja baik kepada individu maupun kelompok.
b.      Pembagian aktivitas menurut kekuasaan serta tanggungjawab.
c.       Pembagian tugas menurut tipe atau jenis yang berbeda setiap kelompok maupun individu.
d.      Berkoordinasi dalam melaksanakan setiap kegiatan baik secara individu maupun berkelompok.
e.       Mengatur hubungan antar personil kerja atau kelompok.[7]
Kelima kegiatan di atas selalu tercermin dalam sebuah organisasi, oleh karena itu proses pembelajaran yang terorganisir akan mencakup lima kegiatan terserbut. Inilah tugas yang harus dilakukan oleh seorang guru bersama peserta didik.
Kegiatan-kegiatan di dalam organisasi memberikan makna bahwa organisasi memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
a.    Mengatur tugas dan kegiatan secara personal maupun kelompok.
b.    Menjauhkan dari kesulitan dan kesalahan dalam mengerjakan tugas.
c.    Menetapkan pedoman pekerjaan atau tugas.[8]
Berdasarkan fungsi tersebut, tak dapat dinafikan bahwa mengorganisasikan proses pembelajaran memberikan keuntungan dan kemudahan baik bagi guru sebagai organisator maupun peserta didik. Beberapa keuntungan tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Memberikan pengertian kepada peserta didik akan tugas yang diberikan kepadanya.
b.    Memberikan kejelasan hubungan atau kerjasama antar perserta didik baik dalam pembelajaran secara individu maupun kelompok.
c.    Mengerjakan pekerjaan atau tugas sesuai dengan minat dan kemampuan peserta didik.
d.   Memberikan nilai efektif serta efisien dalam proses pembelajaran.[9]
Menurut Mursell dan Nasution bahwa mengajar sebagai salah satu tugas seorang guru dapat diartikan mengorganisasi pelajaran atau kegiatan dalam proses pembelajaran. Namun tugas ini tidak hanya guru yang bisa melakukan, peserta didik secara individu maupun kelompok juga ikut berperan aktif melakukan tugas ini.[10]
Jika mengajar diartikan dengan mengorganisasi sejumlah kegiatan baik yang ada di dalam kelas maupun diluar secara individu dan kelompok. Maka tugas guru adalah selalu mengikuti kegiatan tersebut sehingga diharapkan guru dapat berperan di tengah-tengah peserta didik baik sebagai pembimbing maupun pemberi saran.[11]
Oleh karena itu, seorang guru merupakan organisator yang memiliki beberapa sifat dan karakter sebagai berikut:
a.    Guru bukan seorang outokrat, karena tidak hanya menyuruh peserta didik menjalankan perintahnya namun ia ikut serta dalam melakukan segala perencanaan yang telah diputuskan.
b.    Guru selalu membantu peserta didik baik secara individu maupun kelompok untuk menemukan, merumuskan serta menjelaskan tujuan pembelajaran.
c.    Guru memberikan seluas-luasnya tanggungjawab kepada setiap peserta didik sesuai tingkat kemampuannya.
d.   Guru akan menghargai setiap inisiatif peserta didik atas ide-ide dalam koordinasi kelompok.
e.  Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat dalam ruanglingkup tujuan pembelajaran.
f.   Guru mampu mengontrol setiap peserta didik dalam kelompok maupun sebagai individu.
g.  Guru mampu membangkitkan jiwa kritis kepada peserta didik.[12]
 Peserta didik memiliki perbedaan baik secara vertikal atau kuantitatif maupun secara kualitatif. Perbedaan tersebut berimplikasi kepada organisasi pelajaran. Perbedaan secara vertikal ialah individu dapat dibedakan secara sifat fisik dan mentalnya. Sifat fisik meliputi tinggi, berat, kuat dan lain sebagainya. Sedangkan secara mental meliputi tingkat intelegensi individu.[13]
Perbedaan secara vertikal ini berimplikasi pada organisasi pembelajaran, sehingga sebelum guru mengorganisir peserta didik di dalam kelas maka perbedaan individu perlu dipertimbangkan sehingga tidak terjadi kesalahan serta kekeliruan. Peserta didik dapat dikelompokkan menurut fisiknya karena jika didalam suatu kelompok ada peserta didik yang paling kecil secara fisik maka akan hal itu akan memberikan dampak negatif bagi kelompok tersebut.
Perbedaan kedua yang perlu dipertimbangkan dalam mengorganisasi proses pembelajaran adalah perbedaan tingkat intelegensi. Karena jika suatu kelompok terdapat peserta didik yang tingkat intelegensinya tidak sama maka akan berdampak kepada peserta didik lainnya yang memiliki tingkat intelegensi tinggi. Sehingga keharmonisan dan kerjasama di dalam kelompok dapat terganggu.[14]   
Berdasarkan perbedaan-perbedaan tersebut, guru diharuskan untuk membentuk serta mengorganisir kelompok peserta didik sesuai dengan beberapa aspek yaitu:
a.  Group by ability (kelompok berdasarkan intelegensi), kelompok ini menunjukkan bahwa peserta didik memiliki tingkat intelegensi yang sama dan ditempatkan pada posisi yang sama pula. Oleh karena itu, peserta didik dapat mencapai prestasi yang maksimal jika mereka selalu mendapatkan tantangan serta dikelompokkan dengan mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang sama;
b.  Group by interest (kelompok berdasarkan minat), kelompok ini cenderung kepada proses seleksi diri. Ada kelompok yang berminat untuk mengadakan penelitian transportasi di dalam suatu negara atau sumber daya alamnya dan lain sebagainya;
c.  Group by achievement rate (kelompok berdasarkan tingkat prestasi), jika guru dihadapkan pada organisasi kelompok, maka guru harus mempertimbangkan serta menganalisis bakat serta minat setiap peserta didik. Dan kemungkinan setelah kelompok dibuat akan terdapat kesamaan pada peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu membuat kelompok yang lain berdasarkan prestasi yang dicapai peserta didik.[15]

2.     Independent Learning
Vernon S. Gerlanch atau Donald P. Ely di dalam bukunya Teaching and Media a systematic approach mengatakan:[16]Independent study is a vital of the learning process when the student pursues specific goals in a variety of locations element on a self directed basis. (studi independen adalah elemen penting dari proses belajar ketika siswa mengejar tujuan spesifik di berbagai lokasi secara mandiri).
Pembelajaran individu memusatkan pada upaya membantu individu untuk mengembangkan suatu hubungan yang produktif dengan lingkungannya dan memandang dirinya sebagai pribadi yang cakap. Sehingga, memperkaya hubungan antar pribadi dan lebih cakap dalam pemrosesan informasi secara efektif.[17]
Di dalam pembelajaran individu, penekanan terletak pada murid-murid yang menyelesaikan pekerjannya secara mandiri dan menguji dirinya sendiri. Murid akan menyelesaikan tugasnya dengan dipantau oleh guru, dan didorong untuk memberikan jawaban yang mereka anggap paling baik dan bukan jawaban yang dianggap “benar” atau “salah”. Jadi, peran murid adalah menyelesaikan tugas itu dengan sebaik-baiknya, sedangkan peran guru adalah menentukan pekerjaan untuk murid dan memastikan bahwa murid membuat kemajuan kearah penyelesaiannya.[18]

3.    Learning in Groups (belajar secara kelompok)
a.    Small Group
Vernon S. Gerlanch atau Donald P. Ely di dalam bukunya Teaching and Media a systematic approach mengatakan:[19]
In small group, issues are discussed to determine areas of agreement or disagreement. Groups examine terms, consepts, and problems to gain a depth of understanding and to clarify points of uncertainty. One of the fringe benefits of the group situation is the improvement of interpersonal relationships.

Dalam kelompok kecil membahas tentang penentuan hal  kesepakatan atau ketidaksepakatan. Dalam kelompok ini juga akan memeriksa istilah, konsep, dan suatu masalah untuk mendapatkan kedalaman pemahaman dan mengklarifikasi poin ketidakpastian. Salah satu manfaat dalam situasi kelompok kecil adalah peningkatan hubungan interpersonal.
Small groups may be well suited to process objectives such as those related to leadership, participation in a group, and social awareness.[20]
Kelompok-kelompok kecil cocok untuk tujuan proses seperti yang terkait dengan kepemimpinan, partisipasi dalam kelompok, dan kesadaran sosial.
The small group permits active students to be involved in learning. they feel free to raise  question that they probably would not not pursue in large group. in the small group they learn to listen and to respect the opinions of other members of the group.[21]

Didalam kelompok kecil membuat siswa untuk lebih terlibat aktif dalam belajar. mereka merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan, yang mana, mereka tidak bisa mengajukan pertanyaan dengan maksimal ketika dikelompok besar. Dalam kelompok kecil mereka belajar untuk mendengarkan dan menghormati pendapat anggota lain dari kelompok.

b.      Large Group
Vernon S. Gerlanch atau Donald P. Ely di dalam bukunya Teaching and Media a systematic approach mengatakan:
Large group instruction involves a number of activities for which small or medium size grouping. Since the method of large group instruction is largely an expository one, the number of students in the group does not have to be limited for any reasons other than the capacity of the room, its acoustical properties, or the students ability to see chalkboards, charts, or any other items which might be used by the teacher.[22]

Kelompok besar melibatkan sejumlah kegiatan yang kecil atau pengelompokan ukuran sedang. Karena sebagian besar metode pengajaran kelompok besar adalah ekspositori, jumlah siswa dalam kelompok tidak harus dibatasi dengan alasan apapun selain kapasitas ruangan, sifat akustik[23], atau kemampuan siswa untuk melihat papan tulis, bagan, atau item lainnya yang dapat digunakan oleh guru.

4.      Mengatur Ruang Dan Media Yang Digunakan Dalam Pembelajaran Individu
a.    Set to Space (Mengatur Ruang/Tempat Belajar)
Seperti hanya yang dikatakan oleh Vernon S. Gerlanch atau Donald P. Ely di dalam bukunya Teaching and Media a systematic approach bahwa yang termasuk media dalam pembelajaran individu adalah: buku, instruksi terprogram, kaset audio dan disk, slide filmstrips. Maka bisa dikategorikan bahwa tempat pembelajaran individu antara lain:
1)   Di Kelas
2)   Di Laboratorium
3)   Di Perpustakaan

b.   Set to Media (Mengatur Media Belajar)
Vernon S. Gerlanch atau Donald P. Ely di dalam bukunya Teaching and Media a systematic approach mengatakan: There is a wide variety of resources which students can use as individuals: books, programmed instruction, audiotapes and disc, slides filmstrips.[24]
Ada berbagai macam media yang dapat digunakan siswa sebagai individu: buku, instruksi terprogram, kaset audio dan disk, slide filmstrips.
As a student endeavors to attain the objectives in an independent study situation, a variety of methods and media may be used. Reading, listening to record and tapes in a resource center, or viewing slides or filmstrips independently all contribute to learning. The learner may experiment in an independent laboratory carrel or investigate mathematical problems using computer console.[25]

Sebagai upaya siswa untuk mencapai tujuan dalam situasi belajar mandiri, berbagai metode dan media dapat digunakan. Membaca, mendengarkan rekaman dan kaset di sebuah pusat sumber daya, atau melihat slide atau filmstrips mandiri semua berkontribusi untuk belajar. Pelajar dapat melakukan percobaan dalam ruang baca laboratorium independen atau menyelidiki masalah matematika menggunakan konsol komputer.
Schramm, membagi media menurut jumlah siswa (audiens) yang dilayaninya:[26]
1)      Individual
2)      Klasikal (cukup kecil dan berpusat pada satu tempat)
3)      Masssal (banyak yang tersebar di area yang luas).
Pembagaian menurut Schramm tersebut tampak di dalam table berikut:
Tabel 1
Penggolongan Media Menurut Ukuran Audiens
Media Untuk Individual
·         Media Cetak
·         Telepon
·         CAI (computer assisted instruction)
Media Untuk Audiens Kecil
·         Film Suara
·         Film Bisu
·         Vidio Tape
·         Filstrip Suara
·         Slide
·         Radio
·         Audio Tape
·         Audio Disc
·         Foto
·         Poster
·         Papan Tulis
Media Untuk Audiens Besar
1)      Televisi
2)      Radio

5.    Mengatur Ruang Dan Media Yang Digunakan Dalam Small Group
a.    Space Setting (Pengaturan Tempat)
1)   Di Kelas
2)   Di Laboratorium
3)   Di Perpustakaan

b.   Media Setting (Pengaturan Media)
Menurut Schramm dalam buku Kiat Membelajarkan Siswa karya Martinis Yamin menjelaskan sebagai berikut.[27]
            Adapun Media Untuk Audiens Kecil adalah:
1)   Film Suara
2)   Film Bisu
3)   Vidio Tape
4)   Filstrip Suara
5)   Slide
6)   Radio
7)   Audio Tape
8)   Audio Disc
9)   Foto
10)  Poster
11)  Papan Tulis

6.    Mengatur Ruang Dan Media Yang Digunakan Dalam Large Group
a.    Space Setting (Pengaturan Tempat)
Melihat pada jumlah audiens pada kelas besar sangat banyak sekali jumlahnya, dan seperti yang dijelaskan oleh Vernon S. Gerlanch atau Donald P. Ely di dalam bukunya Teaching and Media a systematic approach  tidak ada batasan audiens kecuali kapasitas ruangan, sifat akustik[28], atau kemampuan siswa untuk melihat papan tulis, bagan, atau item lainnya yang dapat digunakan oleh guru. Jadi, pengaturan tempat dalam pembelajaran kelompok kecil yaitu harus memenuhi kebutuhan banyaknya audiens dengan luas ruangan yang memadai.



b.   Media Setting (Pengaturan Media)
Menurut Schramm dalam buku Kiat Membelajarkan Siswa karya Martinis Yamin menjelaskan sebagai berikut.[29]
             Adapun Media Untuk Audiens Besar adalah:
1)      Televisi
2)      Radio

7.    Alokasi Waktu (Allocation of Time)
Disamping organisasi kelompok dan pembagian ruang, alokasi waktu merupakan salah satu unsur yang harus ada dalam setting pengajaran, oleh karena itu alokasi waktu harus diatur secara efisien sehingga ketuntasan materi yang disampaikan atau dipelajari dapat tercapai dalam jumlah waktu yang telah ditentukan. 
                                                                                        
a.    Pengertian Alokasi Waktu (Allocation of Time)
Alokasi waktu adalah lamanya kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan didalam kelas atau laboratorium yang dibatasi oleh kedalaman materi pembelajaran dan jenis kegiatan.[30] Sedangkan alokasi waktu menurut Marno adalah penentuan waktu yang diperlukan untuk menguasai masing-masing kemampuan dasar.[31]
Dari sini dapat dipahami bahwa alokasi waktu adalah penentuan total keseluruhan waktu yang diperlukan untuk menyampaikan materi pokok atau melakukan kegiatan pembelajaran di kelas sehingga setiap kompetensi yang harus dikuasai dapat dicapai dalam waktu yang telah ditentukan.



b.   Penentuan Alokasi Waktu
1)   Penjadwalan Yang Fleksibel
Planning for optimum use of time must be coordinated with the organization of groups and the allocatin of space. One of the most promising innovations for organizing and allocating time is found in the plans for flexible scheduling.[32]

Perencanaan untuk penggunaan waktu yang optimal harus dikoordinasikan dengan organisasi kelompok dan pembagian ruang. Salah satu inovasi yang paling menjanjikan untuk mengatur dan mengalokasikan waktu ditemukan dalam rencana penjadwalan yang fleksibel.

flexible scheduling of the time available will probably help to make the use of that time more efficient. Additional time could be gained by lengthening the school day, extending the week by using evening and weekend times.[33]

penjadwalan yang fleksibel dari waktu yang tersedia akan membantu untuk membuat penggunaan waktu yang lebih efisien. Waktu tambahan dapat diperoleh dengan memperpanjang hari sekolah, memperluas minggu dengan menggunakan waktu malam dan akhir pekan.
Hal ini dikarenakan peningkatan pengetahuan yang harus dipelajari dalam jumlah waktu yang tetap telah menyebabkan pendidik untuk menemukan waktu guna memasukkan pengetahuan baru ke dalam kurikulum, oleh karena itu beberapa sekolah, dalam menanggapi tuntutan tersebut, telah memperluas sumber daya perpustakaan dan jam pusat ke sore hari, malam hari, dan hari sabtu.[34]



2)   Penjadwalan Yang Sistematis
penjadwalan (alokasi waktu) disini adalah perkiraan berapa lama siswa mempelajari materi yang telah ditentukan, bukan lamanya siswa mengerjakan tugas dilapangan atau dalam kehidupan sehari-hari. Alokasi waktu perlu diperhatikan pada tahap pengembangan silabus dan perencanaan pembelajaran. Hal ini untuk memperkirakan jumlah jam tatap muka yang diperlukan.[35] Dalam menentukan alokasi waktu untuk setiap kompetensi dasar perlu mempertimbangkan kompleksitas, frekuensi penggunaan banyaknya indikator dan materi pokok, serta kemampuan dan kebutuhan siswa.[36]
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menentukan alokasi waktu adalah tingkat kesukaran materi, luas, ruang lingkup atau cakupan materi, frekuensi penggunaan materi baik untuk belajar maupun dilapangan, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari. Semakin sukar dalam mempelajari atau mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan materi, semakin banyak yang digunakan dan semakin penting maka perlu diberi alokasi waktu yang lebih banyak. Materi yang tidak memerlukan kegiatan praktik di laboratorium membutuhkan waktu yang lebih pendek jika dibandingkan materi yang perlu didukung pengalaman praktik di laboratorium.[37]
Secara umum pembagian alokasi waktu pembelajaran pada setiap kegiatan belajar mengajar baik dalam bentuk organisasi kelompok maupun belajar secara mandiri disesuaikan dengan alokasi waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya yaitu 35 menit untuk jenjang sekolah dasar, 40 menit untuk jenjang sekolah menengah pertama dan 45 menit untuk jenjang sekolah menengah atas. Hanya saja yang membedakan disini adalah pendistribusian waktu kedalam setiap kegiatan pembelajaran.   
Pada prinsipnya proses belajar mengajar dikelompokkan kedalam tiga kegiatan besar, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan awal diisi dengan mengmukakan hal-hal yang menarik minat siswa untuk belajar, membahas ulang pengetahuan prasyarat, atau menyampaikan informasi awal dan penjelasan tugas secara klasikal. Pengetahuan prasyarat yang dibahas hendaknya betul-betul yang dekat dengan konsep baru yang akan dipelajari, tidak terlalu jauh sehingga waktu yang digunakan menjadi singkat. Penyampaian informasi awal dan tugas hendaknya jelas, jika perlu secara perlahan. Informasi dan tugas yang tidak jelas hanya akan membuat guru sibuk menjelaskan ulang informasi atau tugas tersebut ke setiap (kelompok) siswa, sementara siswa sudah mulai bekerja. Akibatnya, siswa kurang memerhatikan penjelasan ulang.
Kegiatan inti disediakan untuk siswa mengalami kegiatan seperti melakukan percobaan, bermain peran, kegiatan pemecahan masalah, atau simulasi, yang sebaiknya dilakukan secara berpasangan atau kelompok. Apabila kegiatan inti dilakukan oleh siswa secara perorangan maka harus diikuti dengan kegiatan yang melibatkan lebih dari satu orang, misalnya saling menjelaskan proses dan hasil belajarnya kepada temannya. Hal ini dimaksudkan agar tercipta interaksi diantara mereka sehingga hasil belajar mereka menjadi mantap.
Kegiatan penutup biasanya diisi dengan rangkuman hasil belajar secara klasikal. Alokasi waktu untuk kegiatan awal dan penutup masing-masing sebaiknya tidak lebih dari 10-15 menit sehingga sisanya untuk kegiatan inti. Oleh karena itu pada rata-rata 10 menit pertama kita cenderung dapat mengingat informasi yang diterima. Demikian juga informasi yang diterima pada rata-rata 10 menit terakhir dari suatu episode belajar. Sedangkan informasi diantara itu cenderung terlupakan. Oleh karena itu, pada menit ditengah siswa harus melakukan kegiatan langsung.[38] kegiatan langsung disini dapat berupa praktikum, diskusi kelompok, pengamatan, ataupun pembelajaran secara mandiri, dan lain sebagainya.
 Sebagaimana yang diungkapkan oleh Robbert Bush dan Dwight Ellen, bahwa dalam menentukan alokasi waktu yang menjadi salah satu perhatiannya adalah bagaimana mengorganisasikan materi pelajaran kedalam kelompok-kelompok belajar seperti, kelompok besar (small group), laboratorium (laboratory), dan kelompok besar (large group).[39]























C.    PENUTUP
Peran media dalam setting pembelajaran memang sangat diperlukan hal ini dikarenakan media mempunyai sumbangan yang cukup besar ketika difungsikan dalam suatu kegiatan pembelajaran.  Selain media terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah pengorganisasian, alokasi tempat dan waktu.
Pengorganisasian ini dibentuk dalam rangka mengembangkan kemampuan individual dan sosial, pengaturan siswa dalam belajar hendaknya berganti-ganti antara belajar secara perorangan, berpasangan, dan berkelompok. Pengaturan ini tentu disesuaikan dengan karakteristik  bahan ajar yang akan dipelajari atau bia juga disesuaikan dengan setiap kemampuan atau minat peserta didik. Sehingga siswa yang memiliki pengetahuan yang lebih banyak bisa memberikan informasi kepada teman-temannya dan siswa yang belum fahan terhadap suatu materi yang dipelajari bisa bertanya kepada siswa yang sudah faham atau yang memiliki pengetahuan yang lebih. Hal ini untuk menanamkan kesan bahwa belajar bisa dari siapa saja, tidak harus selalu dari guru yang akibatnya selalu tergantung pada guru.
Alokasi tempat (ruang belajar) dan Media pembelajaran ini ditentukan untuk mendukung jalannya proses pembelajaran, karena tempat atau ruang belajar dan media mempunyai pengaruh yang cukup dominan dalam proses pembelajaran. Disamping itu tempat belajar atau bisa kita sebut dengan lingkungan belajar tidak hanya berperan sebagai sumber belajar, akan tetapi penggunaan tempat belajar (ruang belajar) sebagai sumber belajar akan membuat peserta didik merasa senang dalam belajar ketika didukung dengan berbagai media yang sesuai dengan tema yang sedang dipelajari. Berbagai contoh media yang mendukung proses belajar mengajar diantaranya adalah video, film, radio, LCD projector, papan tulis dan sebagainya.
Alokasi waktu ditentukan untuk mengetahui jumlah keseluruhan waktu yang diperlukan untuk menyampaikan materi pokok atau melakukan kegiatan pembelajaran di kelas sehingga setiap kompetensi yang harus dikuasai dapat dicapai dalam waktu yang telah ditentukan.
DAFTAR RUJUKAN


A Purtanto, Pius, Abarry, M Dahlan. 2001. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola

Burhanuddin, 1994. Analisis Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara

Gerlach, Vemon S. dan Donald P. Ely, Teaching and Media: a Systematic Approach, second edition, (New Jersey: Prentice Hall, tt)

Joko Susilo, Muhammad. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan Dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Marno. tt. Cara Pengembangan Silabus Dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dalam Modul Desain Pembelajaran PAI
Muijs, Daniel dan Reynolds, David. 2008. Effective Teaching Teori dan Aplikasi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar

Mursell, J. dan S. Nasution, 2002. Mengajar dengan Sukses: Successful Teaching, Jakarta: Bumi Aksar

Muslich, Mansur.  2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman Dan Pengembangan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Purwanto,  M. Ngalim. 2006. Administrasi Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet. XVI

Sagala, Syaiful. 2010. Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan. Bandung: ALFABETA

Sutisna, Oteng. 1987. Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional, Bandung: Angkasa, Cet. X

Yamin, Martinis. 2007. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Pusat Grafika


[1] M. Ngalim Purwanto, Administrasi Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet. XVI, 2006), 160
[2] Burhanuddin, Analisis Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 192
[3] Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional, (Bandung: Angkasa, Cet. X, 1987), 175-176
[4] Burhanuddin, Analisis Administrasi…, 193
[5] Purwanto, Administrasi Supervisi…, 128
[6] Vemon S. Gerlach dan Donald P. Ely, Teaching and Media: a Systematic Approach, second edition, (New Jersey: Prentice Hall, tt), 205
[7] Burhanuddin, Analisis Administrasi…, 195
[8] Ibid., 205
[9] Ibid., 205-206
[10] J. Mursell dan S. Nasution, Mengajar dengan Sukses: Successful Teaching, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), 8
[11] Ibid., 9
[12] Ibid., 9-11
[13] Ibid., 68
[14] Ibid.
[15] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…, 213
[16] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…, 218
[17] Syaiful Sagala. Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan. (Bandung: ALFABETA. 2010) Hlm. 78
[18] Daniel Muijs dan David Reynolds. Effective Teaching Teori dan Aplikasi. (Yogjakarta: Pustaka Pelajar. 2008) Hlm. 174
[19] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,224
[20] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,225
[21] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,226
[22] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,227
[23] Sifat ilmu gelombang suara atu bunyi (cabang ilmu alam)Pius A Purtanto, M Dahlan Abarry. Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya: Arkola. 2001), 25
[24] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,231
[25] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,218
[26] Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa. (Jakarta: Pusat Grafika. 2007)., 205
[27] Ibid.,
[28] Sifat ilmu gelombang suara atu bunyi (cabang ilmu alam)Pius A Purtanto, M Dahlan Abarry. Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya: Arkola. 2001), 25
[29] Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa..., 206
[30] Muhammad Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan Dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007) hlm. 142
[31] Marno, Cara Pengembangan Silabus Dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  (Dalam Modul Desain Pembelajaran PAI), hlm. 10
[32] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…, 231
[33] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,235
[34] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…, 233-234
[35] Muhammad, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan...., 136
[36] Marno, Cara Pengembangan Silabus ...,10
[37] Muhammad, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan..., 136
[38] Mansur Muslich, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman Dan Pengembangan (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007), hlm. 60-61
[39] Gerlach dan Ely, Teaching and Media…,233

Tidak ada komentar:

Posting Komentar